Wacana

Hari Perdamaian Dunia

Konflik dan kekerasan yang selama ini terjadi selalu menyisakan duka bagi semua pihak, khususnya perempuan dan anak anak. Berbagai upaya untuk mencegah terjadinya konflik kekerasan dan upaya membangun perdamaian telah dilakukan, baik Pemerintah maupun NGO. Perjuangan panjang yang telah dilalui tetap meninggalkan bekas dan tantangan bagi perempuan dan anak-anak. Dimana mereka telah merasakan berada dalam daerah konflik yang tidak terlindungi dan tidak berdaya dalam menghadapi konflik dan kekerasan.

Sebuah ungkapan hadih maja, “Pat ujeun yang hana pirang pat prang yang hana reuda” (pada waktunya hujan pasti berhenti, pada saatnya perang pasti usai). Kalimat yang bersumber dari khasanah budaya Aceh itu melambangkan optimistis bagi masyarakat dunia. Namun, butuh jiwa-jiwa tegar untuk menerobos jalan buntu, merintis perdamaian dunia melalui berbagai upaya, salah satunya melalui perundingan (negotiation). Seiring waktu berjalan, proses perdamaian di berbagai Negara terus ditutupi dengan berbagai upaya. Hal ini bertujuan untuk menjaga keutuhan dan perdamaian dunia. Dunia menginginkan perdamaian bukan menimbulkan lubang bagi masyarakat dunia. Sangat banyak efek yang dirasakan masyarakat saat terjadinya perang, salah satu persoalan dari perang adanya pengungsian.

Mengingat efek perang yang ditimbulkan sangat banyak, maka PBB mengeluarkan resolusi melalui nomor 55/282 tahun 1991 tentang Hari Tanpa Kekerasan dan Gencatan Senjata serta Perdamaian Dunia. Makna tersebut biasanya berupa himbauan bagi semua bangsa dan anggota masyarakat di muka bumi untuk menghentikan segala bentuk permusuhan. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan tujuan dari perdamaian dunia, yaitu menjalankan unsur-unsur kepedulian sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang aman dan lestari.

Berdasarkan ulasan di atas, kami mengajak seluruh komponen masyarakat untuk mendiskusikan wacana ini untuk menjadi pembelajaran kita bersama dalam menjawab berbagai persoalan tentang perdamaian dunia. Pertanyaan mendasar sebagai bahan diskusi adalah :
1. Apakah resolusi PBB memberikan dampak positif bagi Negara berkonflik?
2. Bagaimana kebijakan PBB terhadap negara yang menahan NGO dalam member bantuan pada daerah berkonflik?

Kami mengundang Anda semua untuk berdiskusi, jika Anda memiliki kelonggaran waktu dan suasana batin yang sama, mari kita mulai!

0